Tuesday, August 23, 2016

Keindahan Krueng Lhok Gop Menjadi Tempat Upacara Adat Tahunan Masyarakat Gampong Kumba, Pidie Jaya


Galeri Image. Indahnya Wisata Alam Aceh. Redha Pahlefi
Krueng Lhok Gop, Pidie Jaya 
Pidie Jaya menyimpan banyak potensi keindahan alam. Krueng (sungai) Lhok Gop adalah salah satu dari puluhan jumlah tempat wisata lainnya yang tak tergali. Sungai Lhok Gop terletak tepatnya di Gampong (desa) Kumba, Kecamatan Bandar Dua Pidie jaya. Dari sungai ini, air mengalir ke penjuru persawahan masyarakat Bandar Dua dan sekitarnya. .
Selain sebagai tradisi turun-temurun, pergi ke Lhok Gop juga sebuah kesenangan, begitu lah anggapan bagi para pengunjungnya. Selain suasana pemandangan yang begitu indah juga kesejukan alam di padu dengan kicauan burung-burung yg begitu bersahabat di telinga. Gemericik air dari celah batu menjadi irama unik di tengah kesunyian hutan.

Hari itu, Kamis 26 September 2013 adalah hari jatuhnya ritual Lhok Ghop. Prosesi ini dimaksudkan untuk mensyukuri rahmat Tuhan yang telah memberikan sumber air melalui sungai Lhok Ghob. Ritual ini diadakan setahun sekali menjelang musim kemarau melanda Nanggroe.
Galeri Image. Indahnya Wisata Alam Aceh. Redha Pahlefi
Upcara Adat Gampong Kumba di Krueng Lhok Gop, Pidie Jaya
Petani pasti tidak punya kuasa mendatangkan air untuk padi mereka yang mulai menguning di persawahan, doa adalah satu-satunya harapan ditengah sarana pertanian yang minim perhatian dari pemerintah daerah.

Upacara Lhok Ghob telah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Tidak seorang pun mengetahui persis kapan ritual itu pertama dilakukan. Besar dugaan, tradisi tersebut adalah peninggalan masa kerajaan Hindu di Aceh. Setelah agama Islam memenangkan hati masyarakat, segala ritual digantikan dengan ajaran Islam.

Ini terlihat dari masih ada masyarakat yang membuang tanduk kerbau ke sungai. Asimilasi budaya ini ditemukan hampir di setiap upacara adat orang Aceh.

Friday, August 19, 2016

Keindahan Alam di Pantai Manohara Pidie Jaya, Aceh



Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Pantai Manohara, Pidie Jaya



Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Jambo Tempat Para Pengunjung 
Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Mendengar nama Manohara, pasti akan berpikir soal sosok artis cantik serta mantan isteri putra Kerajaan Klantan, Malaysia. Namun di Aceh, ada pula Manohara. Nama ini berupa pantai yang terletak di Gampong Meuraksa, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Pantai ini pun telah menjadi favorit warga Aceh serta wisatawan. Dulu, pantai ini dikenal sebagai Pantai Meuraksa atau Pantai Meureudu. Tak banyak yang berkunjung ke sini. Setelah konflik bersenjata dan tsunami menyapu pesisir Aceh 26 Desember 2004 lalu, pantai ini perlahan mulai hidup.


Kafe kecil mulai berdiri di area pantai dan sering dijadikan tempat bersantai para pemuda kampung. Karena saat itu sedang heboh pemberitaan kisruh rumah tangga Manohara Odelia Pinot dengan Teungku Muhammad Fakhry Petra, putra mahkota Kerajaan Klantan, Malaysia yang membuat nama Manohara melambung, sang pemilik kemudian menamakan Manohara sebagai nama kafenya.

Lambat laun orang-orang mulai menyebut pantai ini sebagai Pantai Manohara. Dari mulut ke mulut, Pantai Manohara kemudian terkenal dan banyak warga dari kabupaten-kabupaten tetangga berkunjung ke sini.

Panorama Pantai Manohara memang elok. Berpasir hitam, laut biru terhampar hingga menembus kaki langit yang diriaki awan, berpendar-pendar disengat matahari. Kapal-kapal nelayan berlayar di atasnya menjadi pemandangan tersendiri.

Deburan ombak tak pernah berhenti terdengar, bersama hembusan angin yang memanjakan siapa saja. Pohon cemara tumbuh berjejer mengikuti garis pantai, daunnya menari-nari saat dihempas angin laut.

Diantara pepohonan, berdiri cafe atau pondok-pondok sederhana, tempat bersantai bagi para pengunjung sambil menikmati pemandangan pantai. Di pondok ini pengunjung bisa memesan beragam minuman dan aneka kuliner seperti mie Aceh, rujak Aceh, bakso dan lainnya.

Pantai Manohara ramai dikunjungi warga. Mereka datang tak hanya berjalan kaki saja, tapi ada pula yang menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, mobil bak terbuka atau menyewa bus umum untuk bisa menikmati Manohara.

Pantainya yang luas membuat pengunjung leluasa bermain di atas pasir atau mandi bersama. Jika hobi mancing, berjalan saja ke Timur maka di sana akan terlihat tanggung batu penahan abrasi, tempat favorit warga memancing ikan.

Pantai Manohara sekira tiga kilometer arah Utara Kota Meureudu, atau hanya butuh waktu 10 menit dari Ibukota Pidie Jaya. Untuk masuk cukup membayar Rp2 ribu per kendaraan.

Sebagian pemilik kafe juga masih menumpuk sampahnya di pinggir kafe sehingga mengganggu pemandangan. Padahal Pantai Manohara bisa menjadi potensi yang digarap untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah, jika dikelola serius dan profesional.

Sunday, August 14, 2016

Cerita Legenda Batu Belah yang terletak di Kampung Penaron, Linge Aceh Tengah

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh. Redha Pahlefi
Batu Belah (Atu Belah), Takengon 

Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Batu Belah (Atu Belah) Bahasa Gayo, Salah Satu Obyek Wisata yang ada di Kampung Penaron Kecamatan Linge Takengon Aceh Tengah.

Atu Belah bermakna batu belah. Legendanya sudah menjadi cerita rakyat, apakah Atu Belah ini fakta atau mitos belum ada yang bisa memastikannya, sebahagian masyarakat percaya kalau Atu belah tersebut benar benar ada dan sebagian masyarakat lainnya mengangap atu belah itu hanya cerita rakyat. Legenda Atu Belah itu menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada masa dahulu di desa Penerun Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah, hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu mempunyai dua orang anak, yang tua berusia tujuh tahun dan yang kecil masih kecil. Ayah kedua anak itu hidup sebagai petani, pada waktu senggangnya ia selalu berburu rusa di hutan.


Di samping itu, ia juga banyak menangkap belalang di sawah, untuk dimakan apabila tidak berhasil memperoleh binatang buruan. Belalang itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam lumbung.

Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk berburu rusa, di rumah tinggal istri dan kedua anaknya, pada waktu makan, anak yang sulung merajuk, karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya yang sangat dimanjakannya itu.

Akhirnya si ibu menyuruh anaknya tersebut untuk mengambil belalang yang berada di dalam lumbung. (padahal sebelumnya siayah memesan kepada sang ibu jangan di buka lumbung yang berisikan belalang itu), Ketika si anak membuka tutup lumbung, rupanya ia kurang berhati-hati, sehingga menyebabkan semua belalang itu habis berterbangan ke luar.

Sementara itu ayahnya pulang dari berburu, ia kelihatannya sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh seekor rusa pun. Kemudia ia sangat marah ketika mengetahui semua belalang yang telah di kumpulkan dengan susah payah telah habis terlepas.

Kemudian, dalam keadaan lupa diri si ayah memotong sebelah (maaf) payudara istrinya, dan memanggangnya, untuk dijadikan teman nasinya. Kemudian wanita malang yang berlumuran darah dan dalam kesakitan itu segera meninggalkan rumahnya.

Dalam keadaan keputusasaan si wanita tersebut pergi ke hutan, di dalam hutan tersebut si ibu menemukan sebongkah batu, dengan keputusasaan si ibu meminta kepada batu untuk dapat menelannya, agar penderitaan yang di rasakanya berakhir.

Selepas itu si ibu bersyair dengan kata-kata, “Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa dahulu,” kalau diartikan dalam bahasa indonesia “Batu Belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa yang lalu. “Kata-kata” itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh ibu yang malang itu.

Tiba-tiba suasana berubah, cuaca yang sebelumya cerah mejadi gelap disertai dengan petir dan angin besar, dan pada saat itu pula batu bersebut terbelah menjadi dua dengan perlahan-lahan tanpa ragu lagi si ibu melangkahkan kakinya masuk ke tengah belahan batu tersebut. Setelah itu batu yang terbelah menjadi dua tersebut kembali menyatu.

Si ayah dan kedua anaknya tersebut mencari si ibu, tetapi tidak menemukannya, mereka hanya menemukan beberapa helai rambut diatas sebuah batu besar, rambut tersebut adalah milik siibu yang tertinggal ketika masuk kedalam atu belah.

Kini atu belah sudah hilang populernya hal itu di buktikan masyarakat Gayo khususnya generasi sekarang masih banyak yang tidak tau cerita dari legenda atu belah dan di kwatirkan cerita rakyat ini dengan waktu berlalu makin hilang dengan sendirinya.

Saturday, August 13, 2016

Danau Laut Tawar, Bagaikan Hamparan Permadani Berwarna Biru dan Rumahnya Satwa Langka

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Suasana Laut Tawar Dari Ketinggian

Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Danau Laut Tawar, itulah nama yang diberikan suku asli Gayo buat danau seluas 5472 hektar ini. Danau Laut Tawar ibarat hamparan permadani berwarna biru kalo kamu lewat di atasnya dengan naik pesawat, mirip seperti sisa-sisa air laut yang terjebak di daratan saat terjadi badai besar ribuan tahun silam.

Belom jelas kenapa danau yang berada di Kota Takengon, Aceh Tengah, Propinsi Aceh ini dinamakan Danau Laut Tawar. Mungkin karena sangat luas kayak laut tapi airnya nggak asin alias tawar, dan di sini juga ngga ada ombak atau pasang surut seperti di laut. Tapi beberapa waktu lalu kabarnya sebuah tornado kecil sempat melintas di Danau Laut Tawar dan sempat bikin geger warga sekitar.

Danau Laut Tawar rumah satwa langka
 
Kalo cuaca lagi bagus dan berkabut, kamu bisa melihat betapa mempesonanya danau berair kebiruan ini. Sambil menikmati gemericik suara air yang mendamaikan, layangkan pandanganmu di sekitar Danau Laut Tawar buat mengamati barisan pegunungan yang mengelilinginya. Pegunungan yang berdiri kokoh itu ditumbuhi hutan yang cukup terpelihara dan belum dijamah oleh tangan manusia. Konon sejumlah satwa langka seperti trenggiling, landak, siamang, kijang, kucing hutan dan harimau masih tinggal di sana.

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Trenggiling
Selain kita bersantai di tepi Danau Laut Tawar sambil menikmati secangkir Kopi Gayo yang legendaris, kamu bisa pake waktumu buat mengelilingi Danau Laut Tawar dengan naik perahu motor, bersepeda (ada rental sepeda di sekitar danau) atau memancing. Siapa tau kamu bisa dapet ikan depik, satwa air endemik yang menghuni Danau Laut Tawar. Ikan depik mirip kayak ikan teri, tubuhnya mungil dan berwarna-warni. 

Di bulan Agustus kayak gini ikan depik akan muncul dari persembunyiannya di perairan Danau Laut Tawar yang menjorok ke Gunung Kelieten.

Keindahan Pantai Calok yang terlupakan


Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh. Redha Pahlefi
Pesisir Pantai Calok & Simpang Mamplam, Bireuen 
Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Pantai calok adalah salah satu objek wisata yang terletak dikecamatan Pandarah desa calok salah satu kecamatan yang terdapat didalam wilayah kabupaten Bireuen – Nanggroe Aceh Darussalam dengan jarak ± 36 Km dari pusat kota Bireuen. Dengan panorama alam yang indah dan sejuk, dan hamparan pantai yang luas serta bebatuan dan bukit yang menjorok kedalam laut sehingga menambah keindahan pantai ini secara alami, dan apabila pengunjung ingin berjalan-jalan ke laut, pengunjung dapat menyewa boat para nelayan yang tersedia disisi pantai. Ditengah laut para pengunjung dapat melihat keindahan dari terumbu karang yang terdapat didasar laut dan dijadikan sebagai tempat bersarang ikan-ikan hias yang indah dan rupawan.
Tempat wisata ini sebelum terjadinya konflik dan tsunami ramai dikunjungi oleh para wisatawan local maupun asing, tetapi setelah terjadinya bencana alam pantai ini sudah ditinggalkan oleh para pengunjung baik local maupun asing.
Agar dapat menuju kesana para pengunjung dapat menggunakan kenderaan pribadi karena untuk dapat mencapai kelokasi wisata tersebut angkutan yang tersedia hanya berupa RBT (ojek). Kita selaku masyarakat yang mempunyai keindahan alam wajib kita lestarikan. 

Air Terjun yang Tersembunyi di Gampong Pandrah, Bireuen

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Air Terjun Ceurace, Pandrah - Bireuen 
Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Di Kabupaten Bireuen, atau sering disebut dengan Kota Juang, ada sebuah air terjun yang tersembunyi. Air Terjun Ceuraceu, itu nama yang diberikan oleh warga setempat. Letaknya terpencil dan mencapainya butuh petualangan.

Pesona keindahan alam di Bireuen banyak yang masih terpendam, salah satu tujuan yang sempat saya kunjungi bersama teman-teman blogger di tanah Kerajaan Jeumpa ini, yakni ke sebuah kecamatan yang bernama Pandrah.

Tidak jauh dari jalan raya Medan-Banda Aceh, di Pandrah inilah kami mulai menelusuri beberapa lokasi. Pertemuan pertama dengan melewati jalan yang mulus adalah sebuah bendungan yang ada di Gampong Samagadeng, dari bendungan yang bertuliskan TUMIBA09 inilah akhirnya mengetahui bahwa debit air yang mengumpul di bendungan tersebut berasal dari air gunung yang mengalir ke hilir. 

Perjalanan pun dimulai lagi, kini jalan yang mulus tinggal tanah-tanah dari gunung. Bergerak dari daerah bendungan TUMIBA09 sekitar 4 km, kami pun mulai menemukan kawanan hutan-hutan yang berada di badan jalan yang dilalui. 


Terdengar bunyi gemericik air dan kicauan burung-burung, dan kami sudah menebak suara air ini tak lain berasal dari air terjun. Air Terjun Ceuraceu, begitulah warga di sana menyebutnya. Bukan kepalang bagaimana caranya bisa melihat air terjun jika berada di atas.
Mendadak aksi menuruni tebing pun harus dilewati, sekitar 25 meter dengan batu-batu yang terjal. Tempat ini memang cocok juga bagi pecinta alam yang suka melakukan climbing (panjat tebing) selain menikmati indahnya pesona air terjun.

Akhirnya kenikmatan melihat air terjun dari bawah sampai juga. Walaupun tidak deras, tapi debit air yang turun pada musim kemarau setidaknya sudah melepaskan rasa penasaran kami.

Perjalanan menempuh ke Air Terjun Ceuraceu ini lebih kurang 8 km dari jalan raya Medan-Banda Aceh, dengan keadaan dan kondisi jalan yang cukup menantang. Jika tidak salah, saat ini akses jalan sudah mulai bagus kembali. Walaupun tidak begitu jauh dari jalan raya, tempat ini memang jauh dari pusat keramaian pasar atau keude dan fasilitas umum lainnya.

Jadi sebelum bergerak ke air terjun ini, siapkan bekal seperlunya. Menikmati santap siang di air terjun ini juga menjadi hal yang menarik. Tapi ingat, jangan pernah tinggalkan jejak dan sampah di tempat ini ya.

Menikmati Sore di Sungai Cunda Sambil Menunggu Sunset



Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Sungai Cunda, Lhokseumawe
Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Lhokseumawe terus bersolek. Di umurnya yang terbilang muda, kota ini terlihat berseri dengan kehadiran pusat-pusat kuliner baru.
Terletak di bibir Krueng Cunda, tempat ini bagai primadona baru yang mempesona banyak mata. Pendaran cahaya dari puluhan lampu listrik memantulkan keelokan kota yang dikelilingi laut dan diapit muara.
Krueng berasal dari bahasa lokal yang bermakna sungai. Tempat yang menyerupai dermaga tersebut menawarkan sajian bercitara lokal dan nusantara.
Sebut saja kopi dan mie Aceh hingga Tom Yam. Ditambah lagi tempat tersebut memiliki magnet tersendiri lantaran letaknya yang terbilang strategis.
Di tempat itu, ia mengaku menemukan atmofer lega karena lepas dari hiruk pikuk kota.
Jejeran kursi yang ditata rapi seperti konsep rex, pengunjung langsung menemukan suasana berbeda tatkala menginjakkan kaki di tempat tersebut.
Hiruk pikuk berganti riak air yang menghantarkan kesejukan, layaknya oase di tengah padang pasir.
Sementara sore hari, kita akan mendapati pondok-pondok di bantaran sungai dijejali pedagang yang menawarkan air tebu.
Berbatang-batang tebu diolah dan disajikan dalam kondisi segar.
Cocok untuk minuman pelepas dahaga.
Sementara keramba-keramba ikan milik petani setempat menyempil di badan sungai yang bermuara ke Pantai Ujong Blang.
Dengan menggunakan perahu nelayan, pengunjung bisa berlayar ke daratan yang menyerupai pulau kecil yang dijejali gugusan pohon bakau.
Keberadaanya menegaskan nama Lhokseumawe, kota yang berasal dari kata ‘Lhok’ yang artinya dalam, teluk, palung laut, dan ‘Seumawe’ yang berarti air yang berputar -putar atau pusat mata air pada laut.
Lokasi
Kota Lhokseumawe bisa diakses lewat jalur darat dengan menumpang bus jurusan Banda Aceh atau Medan.
Melintasi jalan nasional Banda Aceh – Medan yang dikenal sebagai Jalur Lintas Sumatra (Jalinsum).
Sesampai di landmark ‘Kota Lhokseumawe’ lalu mengambil Jalan Merdeka Barat, terus saja hingga melintasi jembatan.
Selanjutnya turun di terminal bus dan melanjutkan perjalanan dengan transportasi lokal berupa angkot, ojek, atau becak motor.
Bisa juga melanjutkan perjalanan menyusuri bantaran sungai dengan berjalan kaki, karena letaknya hanya selemparan batu dan cuma dipisahkan oleh jalan.
Jika ingin bersantai di pusat kuliner berupa rex, maka datanglah antara pukul 16.00 – 24.00 WIB.
Sedangkan jika datang pagi hingga jelang magrib, maka silahkan singgah di pondok-pondok yang menjajakan air tebu sebagai kuliner khas.
Alternatif transportasi lainnya dengan menumpang pesawat yang melayani penerbangan dari Kota Banda Aceh atau Kota Medan untuk kemudian turun di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe.
Hal ini dimungkinkan karena letak Lhokseumawe terbilang strategis sehingga juga dikenal sebagai kota transit.

Friday, August 12, 2016

Keunikan dan Keindahan Pulau Seumadu yang terdapat di Aceh, Lhokseumawe

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Jembatan Kayu Pulau Seumadu, Lhokseumawe


Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Pulau Seumadu merupakan sebuah pulau yang menjadi obyek wisata di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh dan menjadi salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Dulunya tempat ini dinamakan Pantai Rancong, namun sekarang lebih terkenal dengan nama Pulau Seumadu. Asal usul nama Seumadu sendiri karena dulunya kawasan ini sering digunakan untuk tempat tinggal istri kedua bersama suaminya. Ada salah satu suami yang juga mempunyai dua istri bernama Pak Jali. Pak Jali membangun sebuah warung di dekat Pantai Rancong dan warung itu merupakan warung pertama dan satu-satunya yang ada di sana. Warung tersebut bernama Seumadu. Sejak saat itu warga sekitar mulai menyebut tempat ini menjadi Pulau Seumadu.
Untuk menuju pulau ini Anda harus melewati jembatan kayu terlebih dahulu. Jembatan ini merupakan jembatan penghubung ke Pulau Seumadu. Setibanya di Pulau Seumadu, hamparan pasir putih dan air laut yang biru akan menyambut Anda. Bermain pasir dan berenang di air pantai yang tenang pasti akan sangat mengasyikan. Namun bukan hanya itu saja, di sini Anda juga bisa duduk santai sambil memancing. Ada tempat khusus yang berada di depan warung yang memang disediakan untuk memancing. Selain itu, pulau ini juga sudah mempunyai fasilitas yang cukup lengkap, seperti rumah makan, fasilitas karaoke bagi Anda yang hobi menyanyi, serta perahu bebek yang bisa Anda sewa untuk berkeliling.
Jarak antara Pulau Seumadu dari pusat kota Lhokseumawe sekitar duabelas kilometer. Untuk menuju pulau ini, Anda bisa mengambil rute ke arah Jalan Banda Aceh-Medan, kemudian setelah Anda menemukan gerbang perumahan PT. Arun beloklah ke kiri. Setelah kurang lebih 100 meter Anda akan melihat tulisan “Selamat datang di Pulau Seumadu” yang berarti Anda telah sampai di lokasi.

Waduk Pusong, tempat yang sangat bagus untuk refresing

Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Waduk Pusong, Lhokseumawe
Indahnya Wisata Alam Aceh.comWaduk Pusong Lhokseumawe di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) benar-benar memberikan suasana berbeda. Di danau ini, para pengunjung akan mempunyai suasana yang tidak kalah jika dibandingkan dengan danau cantik di luar negeri. Terlebih jika berkunjung ke Waduk Pusong ini pada malam hari.
Pada awal pembangunannya, Waduk Pusong Lhokseumawe ini memang ditujukan sebagai pengendali banjir. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kondisi tempat ini menarik banyak perhatian warga. Terlebih setelah tempat ini mempunyai kondisi yang tertata rapi. Hal ini pun membuat semakin banyak pengunjung yang tertarik menikmati suasana romantis di Waduk Pusong.
Galeri Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Suasana Waduk Pusong di Malam Hari
Dengan ditemani cahaya lampu kota di sekitarnya, suasana Waduk Pusong Lhokseumawe ini bakal memberikan kenyamanan bagi para Pengunjung. Waduk ini merupakan waduk terbesar yang ada di Lhokseumawe dan kerap menjadi destinasi liburan murah untuk warga kota Lhokseumawe dan sekitarnya. Bagi mereka yang mencari suasana romantis, waduk ini pun bisa menjadi pilihan.
Namun tentu saja, kawasan wisata romantis di NAD berbeda dengan di daerah lain. Para Pengunjung pun tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan yang berlebihan dengan pasangannya. Terlebih jika bukan merupakan pasangan suami istri. Tahu sendiri, NAD merupakan provinsi dengan otonomi khusus yang menerapkan aturan syariat Islam dalam kesehariannya.
Momen yang menarik untuk bisa menikmati suasana di Danau Pusong Lhokseumawe tak hanya pada malam hari. Berkunjung ke tempat ini pada sore hari pun menjadi momen yang tak kalah menariknya. Terlebih jika sudah memasuki saat matahari terbenam. Pemandangannya pun akan terlihat eksotis.
Masyarakat kota Lhokseumawe benar-benar memanfaatkan Waduk Pusong ini sebagai pusat hiburan yang murah. Pada sore hari, akan ada banyak pengunjung yang datang ke sini. Entah itu sekedar bersantai di pinggir waduk, atau melakukan aktivitas olahraga ringan seperti joging. Dan tak ketinggalan, ada pula banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain sepakbola di pinggir waduk.
Akses menuju ke tempat wisata di Lhokseumawe ini pun tidak terlalu sulit. Jarak Waduk Pusong Lhokseumawe dengan pusat kota hanya sekitar 2 kilometer. Jarak tersebut pun bisa ditempuh dengan mudah menggunakan sarana transportasi umum labi-labi yang tersedia di sana. Ongkosnya pun murah, berkisar antara 4 ribu hingga 7 ribu rupiah.
Selain menjadi destinasi wisata populer di kota Lhokseumawe, Waduk Pusong ini juga menjadi tempat mencari ikan para nelayan. Di pingggir waduk, pengunjung akan bisa menyaksikan keberadaan perahu – perahu nelayan yang tersandar dengan rapi. Para nelayan tersebut memang mempunyai keramba ikan yang berada di dalam danau.

Keindahan Alam Aceh Dari Perbukitan Gua Jepang Lhokseumawe

Galery Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Taman Goa Jepang, Lhokseumawe

Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Sejumlah pengunjung berdatangan ke Goa Jepang, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh, Senin (3/8/2015). Obyek wisata sejarah ini baru dibuka sekitar dua bulan lalu.

Semilir angin menyibak rambut para pengunjung. Ya, letak gua itu memang diketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan Bukit Goa Jepang. Sedangkan Pemerintah Lhokseumawe menamai obyek wisata ini sebagai Taman Ngieng Jioh (Taman Melihat Jauh).

Jika hendak menuju obyek wisata ini, letaknya persis di jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh. Ketika berada di Desa Blang Payang, atau Taman Makam Pahlawan Lhokseumawe, silakan berbelok ke kanan. Lalu mendaki bukit kecil itu. Di puncak bukit itulah Goa Jepang berada.

Dari puncak bukit ini, arahkanlah pandangan ke seluruh mata angin. Semua menawarkan keindahan tersendiri sembari menikmati hembusan angin.

Jika melihat ke selatan, anda bisa melihat rerimbunan pohon sembari menikmati desiran angin. Jika ke utara, anda bisa menyaksikan laut biru Selat Malaka. Sedangkan jika melihat ke barat, anda bisa melihat kilang PT Arun NGL yang tersohor itu. Lengkap dengan kapal tanker LNG yang bersandar.


Galery Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Gua Jepang, Lhoksemawe
Goa itu dibangun 1942. Benteng terakhir Jepang sebelum Sukarno mendeklarasikan Kemerdekaan RI pada 1945. Sayangnya panjang goa ini hanya 100 meter. Jika ingin melihat ke dalam dan kebetulan sedang ramai pengunjung, maka harus sabar antre.

Goa ini tidak terkoneksi dengan goa lainnya di bukit itu. Tampaknya, goa ini semata-mata untuk pertahanan kelompok kecil dari serangan musuh. Bunker yang dibangun Jepang banyak ditemukan di bibir pantai Lhokseumawe. Goa ini konon juga sebagai pengintai musuh yang datang dari laut lepas.

“Jika hari libur Sabtu dan Minggu, pengunjung bisa 100 sampai 200 orang. Pada liburan Idul Fitri lalu tercatat 10.000 pengunjung. Jika hari biasa, jumlahnya hanya puluhan orang saja,” kata Aidil, salah seorang penjaga obyek wisata itu.

Untuk masuk ke obyek wisata itu, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000. Aidil menyebutkan pengunjung dari Medan dan sejumlah kabupaten/kota lainnya kerap singgah di Goa Jepang. “Mungkin karena penasaran bagaimana bentuk goa itu,” sebut Aidil.

Informasi lain menyebutkan, goa itu beberapa kali berubah fungsi. Ketika tahun 1965, goa itu sempat dijadikan tempat eksekusi mereka yang dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika konflik Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI, goa itu sempat dijadikan tempat penampungan sementara mereka yang diduga terlibat GAM. Setelah ditampung di goa itu, mereka yang bersalah akan menjalani proses hukum di Polres Lhokseumawe. Kini, goa itu menjadi lokasi wisata.

“Menikmati keindahan alam dari ketinggian itu sangat menyenangkan. Di Lhokseumawe dan Aceh Utara ya hanya di sini kita bisa menikmati keindahan itu,” ujar Saiful Nurdin, salah seorang pengunjung.

Selain itu, sambung Saiful, bisa juga menyaksikan bagaimana Jepang membuat benteng pertahanannya. “Ini memudahkan bercerita sejarah Jepang menjajah Indonesia untuk anak-anak,” pungkas Saiful.

Thursday, August 11, 2016

Objek Wisata yang Tersembuyi di Kota Lhokseumawe


Galery Image. Indahnya Wisata Alam Aceh. Redha Pahlefi
Waduk Jeulikat, Kota Lhokseumawe

Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Ratusan warga memadati lokasi Waduk Jeulikat di Gampong Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Minggu, 18 Oktober 2015. Waduk ini menjadi objek wisata baru di Lhokseumawe sejak hari raya Idul Adha lalu.
Waduk itu terkurung di kaki perbukitan yang hijau. Lokasi ini menawarkan pemandangan memesona, sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama. Sebagian pengunjung menikmati pemandangan dari punggung bukit sebelah timur. Para pengunjung tampak ber-selfie menggunakan kamera telpon genggam dengan latar belakang waduk. Ada pula yang bersantai di sejumlah pondok yang tersebar di puncak bukit itu.  
Sebagian pengunjung lainnya ber-selfie dan bersantai di tanggul waduk yang sudah dibangun talud. Dari punggung bukit, pengunjung bisa turun ke tepi waduk melalui anak tangga berkonstruksi semen. Ada pula yang bersantai di sejumlah pondok di tepi waduk.
Dari punggung bukit hingga ke tepi waduk terdapat sekitar 20 pondok. Tepat di tengah waduk teronggok fasilitas air mancur yang konstruksinya menyerupai ikan berukuran besar. Akan tetapi, sore tadi, fasilitas air mancur itu tidak difungsikan.
Pengunjung yang ingin menyebrangi waduk bisa menumpang sebuah rakit yang dioperasikan sejumlah warga Jeulikat. Rakit berkapasitas sekitar 10 orang itu ditarik menggunakan tali dari sebuah pondok di sudut kanan waduk tersambung ke seberang di sebelah selatan.
Menuju lokasi Waduk Jeulikat bisa ditempuh lewat dua jalur. Pertama, dari Jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Cunda, masuk ke arah Cot Sabong melintasi jalan aspal yang membelah Gampong Blang Poroh tembus ke Gampong Lhok Mon Puteh, Kecamatan Muara Dua, hingga ke Gampong Jeulikat. Kedua, dari Jalan Medan-Banda Aceh, masuk ke Simpang Jalan Elak kawasan Alue Awe atau depan kompleks kampus STAIN Malikussaleh, melintasi Jalan Elak hingga ke Jeulikat.
Dari jalur Cot Sabong-Blang Poroh-Lhok Mon Puteh ke Waduk Jeulikat, jika menggunakan kendaraan hanya butuh waktu kurang dari 10 menit.
Menurut Yasir, lokasi waduk itu sejatinya belum dibuka untuk kunjungan wisata. Sebab, kata dia, objek wisata baru itu masih dalam tahap penataan, sejumlah fasilitas pendukung belum rampung.   
Yasir dan Helmi menyebut objek wisata alam itu dikelola masyarakat Jeulikat di sekitar waduk. Sore tadi, para pemuda yang mengelola area parkir kendaraan dalam kompleks waduk itu mengutip Rp5.000 per sepeda motor.
Dalam kompleks itu juga ada sejumlah pedagang aneka minuman kemasan. Akan tetapi, sore tadi, belum terlihat tempat/lapak khusus untuk para pedagang itu. “Nantinya akan diatur tempat berjualan di luar kompleks waduk ini,” ujar Yasir.
Menurut sejumlah pengunjung dari Lhokseumawe, mereka datang ke lokasi itu setelah mendengar kabar ada waduk di kawasan perbukitan Jeulikat yang belakangan ramai dikunjungi warga, terutama pada akhir pekan. 
Azwar dan kawan-kawannya selama ini memilih Waduk Pusong-Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe sebagai lokasi wisata pada akhir pekan. "Sekarang ada tempat baru untuk bersantai bersama teman-teman sambil menikmati pemandangan indah, Waduk Jeulikat," katanya.

Tuesday, August 9, 2016

objek wisata yang bisa dijadikan tempat untuk mandi, sambil berperahu, dikelilingi pohon duren

Galery Image.Indahnya Wisata Alam Aceh.Redha Pahlefi
Objek Wisata Brayeun, Leupung Aceh Besar
Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Banda Aceh, dimana tempatnya objek wisata yang bisa dijadikan tempat untuk mandi, sambil berperahu, dikelilingi pohon duren terus kalau lapar bisa makan gorengan? Kalau Anda berada di Aceh maka salah satu pilihan yang tepat adalah bendungan Brayeun yang terletak di kecamatan Leupung Aceh Besar, sekitar satu jam berkendaraan dari Banda Aceh. Tempatnya tidak sulit dijangkau, sudah ada jalan aspal untuk mencapainya walaupun 20 menit menjelang lokasi pengunjung harus bersiap-siap untuk menikmati “rodeo” akibat jalan yang belum beraspal.
Semenjak tiga tahun belakangan ini Brayeun menjadi primadona baru tujuan wisata bagi penduduk Banda Aceh dan sekitarnya. Jika sebelumnya warga sudah terbiasa dengan wisata pantai atau air terjun kini tempat wisata Brayeun menjadi salah satu pilihan utama. Selain tempatnya sejuk dan rimbun, arena pemandiannya juga relatif aman, ada yang dangkal walaupun ada yang dalam juga. Bahkan di pinggirannya bisa berdiri anak usia 7 tahun tanpa takut tenggelam. Mau berperahu pun enak, tinggal sewa perahu karet yang tarifnya Rp.20 ribu/jam. Mau lebih murah juga bisa, tunggu saja menjelang jam enam sore, ketika pengunjung sudah sepi dan lokasi juga mau ditutup. Anda bisa puas berperahu tanpa takut disemprit pluit petugas yang mengingatkan waktu telah habis.
Berkendaraan menuju lokasi sangat mengasyikan apalagi pemandangan menjelang sampai di lokasi sangat memanjakan mata. Di kiri-kanan jalan tampak sawah, bukit yang rimbun serta barisan pohon durian yang bisa meneteskan air liur jika musim durian tiba. Jalanan memang tidak terlalu lebar, hanya pas untuk dua mobil, dimana salah satu mobil harus berhenti sejenak jika berpapasan dengan mobil lain.
Bagaimana dengan biaya yang harus disiapkan? Beberapa pria yang berdiri di gerbang masuk mengutip uang Rp.10 ribu kepada pengunjung yang menggunakan mobil. Namun di Brayeun saat penulis mengunjungi beberapa waktu lalu, perhitungan tiket pengunjung sudah fair. Tiap pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk Rp.3000, anak-anak bebas tiket.
Pada sebuah tikungan sempit sudah berdiri beberapa anak muda yang mengatur keluar masuk mobil. Lumayan juga pelayanan yang diberikan. Tidak cuma hanya mengutip uang masuk tapi juga sudah mulai profesional dalam mengatur pengunjung. Tapi sayangnya pengaturan yang sudah baik itu menjadi tampak buruk dengan kutipan uang parkir yang mencapai Rp.10 ribu! Pungutan ini tanpa disertai tanda bukti pembayaran dan layanan apapun. Tapi sudahlah, mari kita nikmati kesejukan air bendungan Brayeun saja.
Memasuki lokasi pemandian, mulai tampak keramaian para pengunjung. Lazimnya tempat wisata lokal, disepanjang jalan masuk dipenuhi oleh penjual makanan ringan. Mereka menjual berbagai makanan yang berbeda-beda tapi uniknya tiap warung selalu satu jenis makanan yang sama. Setiap warung menyediakan goreng-gorengan seperti pisang goreng, tahu goreng, risol dan lain-lain. Penjual memanfaatkan selera manusia yang suka akan makanan panas setelah berdingin-dingin ria.
Mata kembali dimanjakan oleh hamparan kolam bendungan Brayeun yang kira-kira seukuran lapangan bola kaki. Kolam mempunyai hulu di kaki gunung yang masih rimbun pepohonan. Pemandangan masih tampak asri. Di beberapa tempat tampak dinding tembok bendungan yang roboh, mungkin suatu waktu pernah dihantam banjir bandang. Jenis banjir ini memang sangat sering melanda kawasan pegunungan.
Ramai pengunjung, terutama anak-anak muda yang mandi di kolam tersebut. Anak-anak juga tak ketinggalan mandi di kolam berair sejuk, umumnya mandi disisi pinggir kolam yang memang dangkal, sekitar setengah meter. Jika ingin berenang yang puas silahkan melompat ke tengah kolam yang lebih dalam. Beberapa anak muda menampilkan atraksi lompat jumpalitan dari sebatang pohon yang berada dipinggir kolam.

Indah dan nyaman memang menikmati pemandian Brayeun Leupung ini. Apalagi jika pengelola mampu menjaga kerapian dan kebersihan lokasi. Sebuah masalah klasik arena wisata yang nyaris terdapat disemua tempat. Apalagi lahan parkir yang sempit, jalan yang belum beraspal menjelang lokasi, jangan sampai hambatan-hambatan ini membuat orang enggan berwisata. Bayangkan saja, mandi di kolam berair yang sejuk dikelilingi pohon duren, amboi enaknya.

Tuesday, August 2, 2016

Melihat deru ombak pantai sambil mendengarkan cerita legenda Bate Putri Ratu Meurendam



Galery Image. Indahnya WIsata Alam, Redha Pahlefi
Wisata Kuala Merisi

Indahnya Wisata Alam Aceh.com - Pantai Kuala Merisi bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan obyek wisata pantai ketika bersama dengan keluarga. Namun tidak menutup kemungkinan untuk tetap bisa menikmati keindahan pantai meskipun sendirian.

Pantai yang satu ini sangat direkomendasikan sekali untuk dikunjungi. Alasannya adalah karena pantai yang satu ini bisa dibilang cukup indah dengan pasir pantai putih yang cukup bersih dan panjang sekali.

Apalagi wisatawan pantai masih belum terlalu ramai seperti halnya yang berada di bali. Jadi serasa pantai adalah milik pribadi yang bisa kita nikmati tanpa adanya halangan dari orang yang yang sedang lalu-lalang.

Belum lagi dengan fasilitas lainnya yang disediakan di pantai. Di pantai ini kita disediakan tempat untuk mandi. Kita tidak perlu bingung lagi setelah selesai bermain air di bibir pantai karena sudah tersedia tempat pemandian.

Debur ombak yang ada di laut pantai ini juga tidak terlalu tinggi sehingga relatif masih aman untuk bermain di dalamnya. Jika sudah lelah maka bisa berbaring di sekitar pantai sambil menggelar tikar untuk menikmati keindahannya.

Jika lapar maka tidak perlu khawatir karena di sekitar pantai sudah banyak para penjual makanan dan minuman. Jadi tidak perlu khawatir kelaparan atau pun kehausan ketika berada di Pantai Kuala Merisi yang berada di Aceh ini.

Pantainya yang cukup panjang akan mampu membuat kita terpesona hingga kelelahan menjelajahinya. Namun jika sudah lelah maka paling enak adalah bersantai sambil bercumbu dan bercanda dengan teman dan keluarga.

Pantai Kuala Merisi merupakan objek wisata alam yang sangat indah apalagi bersama keluarga. Melihat deru ombak pantai dan mendengarkan cerita legenda Bate Putri Ratu Meurendam. Dewi yang terdapat di muara sungai Kuala Merisi ini telah membuat masyarakat menjadi tertarik datang kesini.